Hoax dan Solusinya dalam Islam

Wabah informasi hoax, khususnya di media sosial, dalam satu tahun terakhir telah menyita perhatian dunia, tidak terkecuali Indonesia. Pesatnya perkembangan telepon pintar membuat publik semakin mudah mengakses beragam informasi dan berita hanya dalam genggaman tangan, namun imbasnya informasi palsu ikut tersebar dengan mudah yang bagi sejumlah orang malah diyakini sebagai kebenaran. Bahkan, tidak sedikit tokoh masyarakat, institusi negara, dan ormas menjadi korban dari penyebaran hoax. Hal ini mendorong pemerintah membentuk Badan Siber Nasional (BSN) yang akan memproteksi kegiatan siber secara nasional. Dengan adanya badan yang ditargetkan sudah terbentuk pada akhir bulan Januari ini, menurut Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan Wiranto, masyarakat tidak akan bingung dengan informasi yang beredar (infohumas.com). Sebelumnya, Departemen Komunikasi dan Informatika RI telah melakukan pemblokiran 700.000 lebih situs, termasuk di dalamnya situs-situs hoax (kompas.com). Disinyalir satu situs hoax dikunjungi lebih dari 481 ribu kali tiap harinya (antaranews.com).

Upaya menangkal penyebaran berita hoax tidak hanya dilakukan oleh pemerintah. Masyarakat juga berinisiatif menggalang potensi yang ada untuk melawan berita hoax. Berbagai komunitas anti hoax dibentuk untuk mengajak masyarakat agar lebih cerdas menyikapi media sosial dan bersama-sama melawan hoax. Mereka melakukan berbagai kegiatan seperti sosialisasi dan workshop soal perlawanan terhadap hoax. Bahkan, mereka menggandeng sejumlah tokoh masyarakat sebagai duta anti hoax. Masyarakat pun bisa melaporkan berita-berita hoax yang mereka temukan ke situs-situs yang telah mereka sediakan, termasuk melalui aplikasi Turn Back Hoax.

Ketua Umum Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel) Kristiono menuturkan, Turn Back Hoax merupakan langkah awal yang baik untuk membatasi peredaran berita hoax. Namun hal itu dianggap belum cukup. Menurutnya, masih perlu dilakukan langkah yang menyentuh sumber persoalan. Yakni, literasi baca yang rendah sebagai akibat dari edukasi yang juga rendah. “Untuk itu tentunya diperlukan tambahan pengetahuan dan peningkatan pendidikan di Indonesia,” tuturnya. Ditambahkan pula oleh Ketua Bidang Kebijakan Strategis Mastel Teguh Prasetya, perlu ada kerja sama untuk meningkatkan literasi digital informasi masyarakat agar masyarakat bisa membedakan mana informasi yang benar dan mana yang merupakan informasi hoax (radarpekalongan.com).

Maraknya peredaran hoax saat ini setidaknya dipicu oleh dua motif, yaitu ekonomi dan politik. Ada situs-situs yang memang sengaja dibuat dengan tujuan mendapatkan kunjungan sebanyak mungkin dengan membuat berita penuh sensasi yang pada ujungnya pengelola akan mendapatkan uang dari pihak Google. Selain itu, motif untuk menjatuhkan lawan politik, baik tokoh maupun kelompok juga marak. Hal semacam ini tentunya bisa memecah belah umat dan bangsa.

Pengertian Hoax

Menurut KBBI, hoax memiliki beberapa pengertian. Hoax dapat diartikan 1) kata yang berarti ketidak benaran suatu informasi; 2) berita bohong, tidak bersumber (kbbionline.com). Situs hoaxes.org menyatakan bahwa agar dapat terkatogeri sebagai hoax, sebuah kebohongan harus memiliki ‘nilai lebih’ seperti bersifat dramatis atau sensasional. Lebih dari itu, ia harus mampu menyedot perhatian publik. Publik menjadi semacam kata kunci. Sebab, tidak ada hoax yang sifatnya privat. Makin luas capaian suatu berita hoax, makin tinggi level berita hoax tersebut. Inilah yang membedakannya dengan jenis kebohongan lainnya seperti penipuan serta olok-olokan.

Berita Hoax, Mampukah Dihilangkan ?

Di alam demokrasi yang menjunjung tinggi kebebasan berpendapat seperti sekarang ini, menghilangkan berita hoax di tengah-tengah masyarakat ibarat memotong rumput liar yang senantiasa muncul meskipun sudah dipotong berulang kali. Upaya pemerintah untuk menangkal berita hoax dengan cara membentuk BSN atau melakukan pemblokiran situs-situs yang menyebarkan berita hoax oleh Departemen Kominfo tidak akan berjalan efektif. Mengapa ? Karena akar permasalahannya yaitu sistem demokrasi-kapitalisme masih dibiarkan diterapkan di tengah-tengah masyarakat kita. Sistem ini menafikan peranan agama (Islam) dalam kehidupan dan menempatkan hak untuk membuat hukum dan peraturan berada di tangan manusia. Sistem ini begitu menjunjung tinggi kebebasan, termasuk kebebasan berpendapat.

Dengan dibukanya kran kebebasan berpendapat yang dilindungi dalam sistem demokrasi, orang bebas berpendapat dan menyebarkan informasi apa saja. Tidak ada batas yang jelas antara berita yang benar dan yang salah karena standar kebenaran berada di tangan manusia yang sifatnya relatif. Akibatnya, banyak ambiguitas dalam menilai mana informasi yang layak sebar atau sebaliknya. Walaupun telah ada Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik yang mengatur soal penyebaran informasi dan pemberian sanksi pidana penjara enam tahun dan denda Rp.1 miliar kepada siapa saja yang menyebarkan berita hoax walaupun hanya sekedar menyebarkan (forward), tidak semua orang dapat tersentuh aturan ini. Mengingat begitu banyaknya pengguna medsos dibandingkan jumlah SDM dan biaya yang harus dikeluarkan untuk mengawasi pengguna sosmed yang jumlahnya mencapai 132 juta pada tahun 2016 (kompas.com).

Dalam sistem kapitalisme dimana halal-haram ditinggalkan, orang akan melakukan apa pun untuk bisa meraih keuntungan sebesar mungkin dengan modal sekecil-kecilnya, termasuk dengan menyebarkan berita hoax. Bisnis situs berita hoax dianggap menguntungkan dan tak perlu modal serta biaya operasional besar. Inilah sebabnya mengapa bisnis ini begitu menarik minat banyak orang. Pendapatan rata-ratanya bisa mencapai Rp.600 juta – 700 juta/tahun. Angka yang sangat menggiurkan dalam kondisi ekonomi yang sulit seperti sekarang ini.

Rendahnya literasi digital masyarakat sehingga berita hoax dengan mudah diterima dan dilahap di masyarakat tidak terlepas dari sistem pendidikan yang diterapkan negeri ini. Mahalnya biaya pendidikan menjadikan akses untuk mendapatkan pendidikan berkualitas sulit didapat. Begitu juga dengan kurikulum pendidikan yang disusun dengan basis sekulerisme, sehingga output dari pendidikan bukanlah sosok yang menjadikan nilai-nilai agama (Islam) sebagai standar untuk menentukan benar-salah, baik-buruk, dan terpuji-tercela segala suatu, akan tetapi hawa nafsunya. Termasuk ketika mereka menilai kebenaran suatu berita.

Faktor ideologi pun tidak kalah pentingnya. Meskipun sering dikatakan bahwa media, khususnya media massa, harus netral dan objektif, tapi fakta di lapangan mengatakan sebaliknya. Media akan senantiasa berpihak mengikuti arah kebijakan sang pemilik media. Itu berarti tergantung kepada ideologi yang diemban si pemilik media. Media sebagai pilar keempat demokrasi akan menjadi penjaga eksitensi ideologi demokrasi-kapitalisme. Masih ingat bagaimana AS menggunakan media untuk “membohongi” dunia bahwa Irak memiliki senjata pemusnah massal sehingga menjadi alasan bagi AS untuk menyerang Irak pada tahun 2003? Begitupun dengan kasus terorisme yang diidentikkan dengan Islam. Media punya peranan besar – tidak terkecuali media sosial – untuk menyebarkan berita hoax bahwa terorisme identik dengan Islam.

Pandangan Islam terhadap Berita Hoax

Islam sebagai dien yang sempurna, tentunya mengatur juga masalah ini. Di dalam al-Qur’an telah jelas diterangkan bahwa berita bohong atau hoax adalah modal orang-orang munafik untuk merealisasikan niat kotor mereka,

“Sesungguhnya jika tidak berhenti orang-orang munafik, orang- orang yang berpenyakit dalam hatinya dan orang-orang yang menyebarkan kabar bohong di Madinah (dari menyakitimu), niscaya Kami perintahkan kamu (untuk memerangi) mereka, kemudian mereka tidak menjadi tetanggamu (di Madinah) melainkan dalam waktu yang sebentar, dalam keadaan terlaknat. Dimana saja mereka dijumpai, mereka ditangkap dan dibunuh dengan sehebat-hebatnya” (TQS. al-Ahzaab [33] : 60-61).

Sebagai seorang Muslim kita diperintahkan untuk tabayyun atau meneliti kebenaran sebuah berita sebelum mempercayai apalagi menyebarkannya, yang bisa menjerumuskannya dalam fitnah.

Allah SWT berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu” (TQS.al-Hujurat [49] : 6)

Ketika menerima atau mendengar berita bohong (hoax) dan menyebarkannya, terkadang kita menganggapnya sebagai hal yang kecil atau biasa, padahal itu di sisi Allah SWT adalah perkara besar, sebagaimana firman Allah SWT :

“(Ingatlah) di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit juga dan kamu menganggap sesuatu yang ringan saja. Padahal dia di sisi Allah adalah besar” (TQS. an-Nuur [24] : 15).

Adapun bagi mereka yang menyebarkan berita hoax tanpa menyadari bahwa berita itu bohong, maka Allah SWT telah memperingatkan kita

”Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggunganjawabannya”. (TQS. Al-Isra : 36).

Butuh Khilafah

Menurut dr. Hamdan Fahmi, dalam bukunya, Khilafah Rasyidah yang Telah Dijanjikan dan Tantangan-tantangannya, pers dalam cakupan politik pers dan para pelaksananya harusnya diberdayakan dalam rangka kemaslahatan umat, bukan untuk kemudaratan umat. Pers harusnya diarahkan kepada penyembahan Rabb semesta alam, tidak bermanis muka kepada pribadi, serta tidak melakukan teror dan intimidasi. Dalam hal ini Daulah Islamiyah akan membuat beberapa kelompok pers untuk menyusun program-program sesuai dengan politik media (penerangan). Kelompok inilah yang bertugas memonitor, mengarahkan dan mempersiapkan program – program yang diinstruksikan Khalifah secara  langsung. Sebab, masalah  media berbeda dengan program-program  pendidikan  dilihat dari  sisi kecepatan  dan besarnya transformasi ditengah masyarakat. Media mengusung politik Daulah  secara langsung kepada masyarakat dengan jalan paling cepat.

Kelompok pers akan diarahkan untuk mengokohkan akidah dan hukum-hukum di dalam akal dan hati rakyat, disertai penjelasan akan  pemikiran-pemikiran  yang  merusak  dan  aspek kerusakannya;  menguatkan  ikatan  antara  rakyat dengan pemerintah dari sisi ketaatan, keterikatan kecintaan, dan keikhlasan ; menyiarkan apa yang bisa memperkuat ikatan Islamiyah di antara seluruh kelompok Islam di dalam Daulah;  menjelaskan  dan menyebarkan berbagai instruksi yang dikeluarkan Daulah baik dalam  bentuk resmi maupun perkara-perkara umum; menampakkan potret terbaik dan terkuat Daulah ke luar negerinya  dalam rangka mendakwahkan Islam, serta menampakkan kekuatan Daulah  kepada  musuh-musuhnya. Untuk itu, masalah media memerlukan  persiapan sarana pengetahuan dan sumber daya manusia seperti para ahli. Sebab sarana media rawan menjadi sasaran penghancuran dan serangan oleh musuh.

Atas semua penjelasan diatas, maka jelaslah bahwa untuk memberantas berita hoax serta menyediakan informasi yang layak bagi masyarakat, membutuhkan peran negara. Pemerintah berkewajiban membuat regulasi yang jelas tentang penyebaran informasi di masyarakat. Misal, tidak boleh menyebar berita bohong, palsu, dan fitnah serta segala pemikiran/ide yg bertentangan akidah Islam. Di saat yg sama pemerintah harus meningkatkan kemampuan publik untuk bermedia/literasi media yakni memahami untuk kepentingan apa saja media digunakan. Fungsi media untuk mewujudkan masyarakat yang cerdas dan peduli harus difahami oleh semua lapisan masyarakat, terlebih praktisi media (jurnalis, pemilik media). Terakhir, bila terdapat pelanggaran dari ketentuan aturan yang ada, maka sanksi akan diberlakukan untuk semua pelanggar baik pengguna media sosial maupun praktisi media professional. Wallahu a’lam biash-shawab [].

Sumber bacaan : Website Hizbut Tahrir Indonesia

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s