Perang Politik Media

Tak bisa dipungkiri, bahwa media memiliki peran yang sangat penting terhadap pemberitaan. Media menjadi alat yang sangat efektif digunakan oleh masyarakat untuk memperoleh berbagai berita yang terjadi di berbagai mancanegara secara aktual. Namun saat ini media terasa sangat berbeda dengan media beberapa dekade sebelumnya.

Jurnalis Kompas di salah satu forum training jurnalistik beberapa waktu lalu, menyatakan bahwa jargon pemberitaan media hari ini telah sangat jauh berbeda dengan beberapa dekade lalu. Dahulu, bukan berita namanya ketika ada “Anjing gigit manusia” tetapi akan jadi berita ketika “Ada manusia gigit anjing”. Namun jargon ini telah dianggap usang. Hari ini, yang dianggap berita itu menggunakan prinsip “Adalah suatu HAL YANG PENTING menjadikan sesuatu yang TIDAK PENTING menjadi PENTING”.

Kalimat yang meski terkesan rumit tersebut justru mengartikan suatu keremehtemehan yang menjadi komoditas berita besar hari ini. Media menjadikan sebuah BERITA BESAR menjadi BERITA KECIL karena dianggap TIDAK PENTING oleh media tersebut. Namun sebaliknya, media bisa juga membuat BERITA KECIL menjadi BERITA BESAR yang dianggap PENTING jika media tersebut MEMILIKI KEPENTINGAN di dalamnya.

Inilah mengapa, bagi kita tentu akan sulit untuk mengharapkan media yang objektif, selalu melakukan cover both side atau bahkan sulit berharap mereka melakukan cover all side. Hal itu sangat beralasan karena media dalam sistem demokrasi liberal merupakan salah satu pilar tegaknya ideologi Kapitalis-Sekuler. Sehingga apapun akan mereka lakukan untuk menjaga terus tegaknya demokrasi liberal. Kemudian di sisi lain, media hari ini sesungguhnya telah terkooptasi kepentingan untuk menciptakan pasar. Ini salah satu hal yang perlu kita waspadai juga, karena seringkali media turut berperan “membajak” opini dan dialihkan kepada isu-isu yang memberi keuntungan kepada mereka. Tidak saja secara politik, tetapi juga secara ekonomi.

Noam Chomsky (Seorang Psikolog dan Pengamat Media Sekuler) mengatakan bahwa Media Sekuler memang menetapkan 10 strategi Manipulasi. Salah satunya yaitu “Strategy of Distraction atau Strategi Gangguan”. Strategi ini telah digunakan oleh Amerika Serikat untuk memanipulasi kepentingan politik, dimana kebijakan yang sebenarnya itu sesuatu yang buruk, dengan strategi gangguan oleh media dapat disulap menjadi kebijakan yang sangat dibutuhkan oleh negara.

Strategi gangguan ini telah nyata mengorbankan umat, terutama umat islam. Dimana media telah mengalihkan umat islam dari berita yang besar diganggu dengan berita-berita kecil yang tidak penting namun disulab menjadi berita yang besar dan keberadaannya sangat penting. Gangguan dengan berita-berita kecil ini akhirnya membuat umat tidak mendapatkan informasi secara benar. Opini yang ada ditengah umat untuk mengikuti apa yang disuarakan oleh peserta aksi malah terhambat dan dibelokkan kepada opini buruk yang di ciptakan oleh media. Maka wajar jika dikatakan bahwa media menjadi tempat untuk memanipulasi. Dalam istem ini, kebebasan pers malah digunakan media untuk membodohi umat islam, yang akhirnya melakukan manipulasi terhadap berita sesuai dengan kepentingan pihak penguasa atau yang memiliki kepentingan untuk menjatuhkan umat islam.

Kemunculan MedSos (Media Sosial)

Kemunculan media sosial karena ketidakpuasan terhadap media konvensional saat ini menjadi hal yang sangat wajar. Selain karena perkembangan Teknologi dan Informasi, keberadaan media sosial menjadi peluang besar bagi perjuangan Islam untuk melakukan upaya lawan balik. Fenomena ini terjadi tidak saja di dunia maya, tetapi di dunia nyata. Seperti mulai terdengarnya para jurnalis media konvensional resign dari media massa tempat dia bekerja, kemudian memilih menjadi jurnalis independen dengan mengelola portal berita online sendiri. Tentu ini adalah langkah idealis yang dilakukan seorang jurnalis.

Ada tiga poin perubahan lanskap media hari ini yang dapat kita garis bawahi berdasarkan penjelasan sebelumnya :

Pertama, menjadikan suatu pemberitaan yang tidak penting menjadi penting yang akhirnya mendangkalkan pemikiran umat. Hingga berdampak massif pada munculnya generasi alay yang terlalu banyak mengkonsumsi informasi tidak penting tentang gaya hidup Selebritis

Kedua, tentang strategi media yang lebih khusus terhadap Islam, yakni media blackout. Isu-isu tentang Islam dan Kaum Muslim selalu dihadapkan dengan framing berita dengan angle (sudut pandang) menggunakan labelisasi dan peyorasi (merendahkan atau meremehkan). Seperti perkataan dedengkot media liberal Endi Bayuni: 9 Mei 2013 di Jakarta Globe: “Jangan berikan ruang sedikitpun pada kalangan garis keras! Silakan meliput mereka ketika mereka melanggar hukum, tetapi jangan beri ruang untuk sekelompok kecil orang-orang itu ketika mereka berjuang melawan sesuatu yang absurd…“

Ketiga, peranan media sosial sebagai primadona yang mampu mengakomodasi semua kepentingan. Disinilah Perang Sebenarnya. Perang riil berbagai kepentingan dan aspirasi berbagai ideologi, kuasa modal dan kekuasaan politik. Politik media menjadi lebih banyak pelakunya dan lebih banyak kepentingannya. Diantara mereka itu mungkin ada yang beriringan dan ada yang tidak. Aktivis ideologis harus jeli dalam melihat realitas ini, sehingga dapat memenangkan peperangan politik media.

Dakwah di abad informasi ini memerlukan kekuatan sudut pandang dan literasi informasi. Literasi informasi yang dilandasi oleh ideologi Islam akan membekali kaum Muslim dalam mencerna banyak informasi dan menilai banyak peristiwa dengan lensa Aqidah Islam.

Ada 5 strategi taktis agar kita bisa memenangkan pertempuran di media sosial :

  1. Jadilah penerima kabar dan penyampai kabar yang jernih, tidak baper/bawa perasaan (karena banyak postingan medsos yang memancing emosi), jangan sebarkan berita hoax, serta lakukan tabayyun terlebih dahulu dengan melihat siapa pembawa beritanya.
  2. Lakukan riset berita, dengan pelajari perbedaan angle berita, mengidentifikasi siapa medianya (ideologi pemilik media), dan cari conformity berita, kalau sudah conform berarti berita itu mendekati valid.
  3. Setelah berita valid, respon dengan sudut pandang islam. Buat narasi opini dakwah yang sarat dengan informasi bergizi dan tsaqofah mulia (rumusnya Short, Sharp, Sweet). Disinilah manifestasi kekuatan sudut pandang itu.
  4. Be The Media, Be The Buzzer yang menginformasikan informasi bergizi untuk umat, yakni : contoh informasi tsaqofah Islam, pemikiran Islam, tafsir, hadits, informasi seputar geliat dunia Islam, peristiwa politik ekonomi internasional, dll.
  5. Setelah mencuat opininya di dunia maya, lalu konsolidasikan di dunia nyata untuk semakin membuat kekuatan opini menjadi kekuatan menggerakkan dengan platform gerakan yang kita dekatkan pada Islam, dengan kata lain sesuai dengan metode perubahan yang benar.

Politik Media Dalam Islam

Berikut adalah beberapa peran politik media dalam islam : Pertama, Politik media dalam Islam akan sejalan dengan dakwah Islam, kemajuan teknologi akan dimanfaatkan untuk sebesar-besarnya tujuan dakwah. Inilah ciri khas ideologi Islam yang tidak akan membiarkan kekuatan ekonomi korporasi memanfaatkan teknologi demi semata mengeksploitasi pasar namun mengabaikan terwujudnya masayarakat yang sehat serta generasi muda yang berkepribadian kuat dan berintegritas.

Kedua, Politik media dalam Islam akan mengadopsi strategi informasi yang spesifik untuk memaparkan Islam dengan pemaparan yang kuat dan membekas akan mampu menggerakkan akal manusia agar mengarahkan pandangannya pada Islam serta mempelajari dan memikirkan muatan-muatan Islam. Strategi ini akan membangun kesadaran politik yang kuat pada kaum Muslim sehingga mampu memahami percaturan politik yang sebenarnya yang menimpa dirinya, lingkungannya dan umat Islam dengan kekuatan identitas Islam

Media dalam Kekhalifahan

Media seharusnya adalah alat yang akan memastikan bahwa informasi yang sampai pada masyarakat adalah kebenaran. Media merupakan sarana efektif untuk mentransfer sebuah informasi. Media semaksimal mungkin digunakan untuk mengedukasi umat dengan pemahaman yang utuh terhadap islam agar umat punya panduan dalam berperilaku sesuai tuntutan syari’at islam.

Media dalam kekhalifahan akan mengedukasi umat dengan pengetahuan tentang sains dan teknologi agar kualitas hidup meningkat, agar taraf hidup dalam mendapatkan kemaslahatan yang tidak bertentangan dengan syari’at bisa diraih sesuai dengan apa yang diharapkan semua orang.

Negara islam akan memastikan bahwa media bisa menjaga kehormatan dan kemuliaan Al-Qur’an, kemuliaan hukum syari’at, dan tidak akan ada lagi penistaan terhadap Al-Qur’an, ulama dan martabat umat islam. Tentunya hal ini tidak terjadi dalam negara sekuler yang menata media berdasar prinsip kebebasan pers. Oleh karena itu, agar bisa merasakan kemanfaatan sebesar-besarnya bagi umat, maka umat butuh kembali pada kehidupan islam yang menerapkan seluruh hukum islam secara sempurna dalam naungan Daulah Khilafah Islamiyah. Wallahu ‘Alam bi ash-Shawab [].

Sumber bacaan : Kelas Politik Muslimah Negarawan

 

Advertisements

3 thoughts on “Perang Politik Media

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s