Pembajakan Intelektual Muslim dalam Peradaban Barat

Wajib disadari oleh kaum Muslim, bahwa Intelektual Muslim yang identik dengan pemuda tengah menjadi sasaran sekularisasi Barat yang mengemban ideologi kapitalis. Barat tengah merancang strategi dan menyusun program untuk merebut hati dan pikiran nereka agar setia pada ide-ide sekular, nilai liberal, cara hidup Barat dan sistemnya. Program deradikalisasi intensif yang difokuskan pada Intelektual Muslim hari ini adalah dengan sekularisasi kurikulum pendidikan, budaya sosial liberal yang terus dipromosikan oleh media dan industri hiburan, bisnis e-commerce dengan difasilitasi Pemerintah berupa sejumlah program mereka untuk mengubah posisi dan merusak fungsi utama seorang Intelektual Muslim.

Barat Membajak Potensi Intelektual Muslim

Barat tengah menghadapi ancaman serius dari lawan ideologinya—yakni Islam—pasca runtuhnya Uni Soviet dan kebangkrutan ideologinya. Gelora kebangkitan umat di Dunia Islam yang membuncah pasca ‘Arab Spring’ menjadi momok bagi Barat. Realita pemuda yang menjadi pionir perubahan di negara-negara dengan rezim otoriter, dibaca Barat sebagai ancaman eksistensi mereka, karena para penguasa anteknya telah ditumbangkan. Karena itu upaya meredam kebangkitan Islam semakin giat seiring melajunya kesadaran umat Islam untuk kembali pada posisinya, sebagai khayru ummah menggantikan hegemoni mereka.

Selanjutnya tuntutan perubahan di dunia Muslim ke arah Islam terus saja dibelokkan. Mereka melakukan berbagai macam aktifitas yang nantinya akan meredam suara intelektual muslim dan membajak intelektual mereka agar memuluskan maksud mereka di negeri-negeri Muslim dalam penyebaran ideologi kapitalisnya. Beberapa aktifitas tersebut adalah sebagai berikut :

Pertama, budaya liberal. Jebakan untuk Intelektual Muslim dengan budaya liberal tengah disiapkan Barat. Tujuannya adalah agar mereka terperosok dalam kubangan ide-ide dan nilai-nilai sekular liberal. Hingga orientasi materi telah menuntun pemuda Muslim ke jalan hidup yang salah.

Kedua, kurikulum pro pasar. Masuknya pendidikan dalam komoditi yang berada dalam naungan General Agreement on Trade in Services (GATS) yakni perjanjian bersama mengenai perdagangan pelayanan. Artinya pelayanan pendidikan yang disesuikan dengan kebijakan WTO diatas menjadi lahan basah negara maju dalam mengerogoti negara berkembang dengan iming-iming pendidikan tinggi yang berkualiatas. GATS, GATT, WTO, World Bank, IMF memainkan peran yang cukup sentral dalam politik ekonomi internasional.

Ketiga, triple helix perguruan tinggi. Perguruan tinggi saat ini seperti pabrik-pabrik yang senantiasa beroperasi setiap hari, dengan intelektual sebagai tenaga kerja untuk memproduksi produk yang nantinya siap dipasarkan kepada para produsen (baca: pengusaha) yang nantinya mereka siap untuk melangggengkan posisi para pengusaha dalam pergulatan ekonomi dunia. Dilansir dari situs Republika bahwasannya kerja sama segitiga antara peneliti, swasta (industri), dan pemerintah harus diperkuat dan dikembangkan secara lebih produktif dan sinergis. Pemerintah dan swasta berkewajiban untuk scaling up (mengindustrikan) beragam hasil temuan peneliti dari yang bersifat skala laboratorium (prototipe) menjadi teknologi (berupa produk baru, teknologi proses, teknologi rekayasa, model bisnis dan manajemen, atau rekayasa sosial).

Keempat, membungkam gerakan mahasiswa. Perlu disadari bahwa pergerakan kampus saat ini sangat lemah, dan cenderung menarik diri dari mengkritisi kebijakan. Kebanyakan dari mahasiswa hanya menyibukkan diri dengan mengejar nilai akademik tinggi dan sertifikat ijazah saja, agar siap untuk menjadi sekrup-sekrup perusahaan nantinya, atau mencari skill wirausaha. Sebagian besar hanya berputar dalam dunia hedon kawula muda atau berbaris dalam antrian panjang untuk menjadi selebritis, dan sebagainya. Mahasiswa pun menjadi apolitis dan antipati dengan kondisi masyarakat yang hidup tertindas dalam kubangan sistem yang menzalimi, apalagi lantang menyuarakan solusi dan sudut pandang Islam Ideologis.

Kelima, pasar ekonomi digital. Visi Indonesia sebagai pasar ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara dengan target 130 miliar dolar pada 2020 mendatang membuat Jokowi meminta kepada jajaran Menteri menjaga hubungan baik dengan semua yang ada di Silicon Valley, atau pusat industri kreatif di Amerika Serikat (AS). Karena itu tak heran jika bisnis e-commerce menjadi program yang dicanangkan seiring dengan pemberlakuan paket kebijakan ekonomi tahap 10 tentang UMKM. Di aspek ini, bisnis start up juga menjadi peluang kerja bagi kaum muda. Padahal kita tahu bahwa perusahaan digital yang diajak kerjasama oleh Pemerintah Indonesia ini (Google, FB) adalah pendukung liberalisasi pemuda di dunia. Mereka menjadi pendukung kaum LGBT yang ramai dibincangkan.

Wahai Intelektual Muslim

Itulah sebagian realita yang menggambarkan Barat merampas potensi intelektual Muslim. Mereka adalah aset berharga umat Islam, namun kita tengah melihat bahwa aset itu direbut oleh penjajah yang membenci kebaikan umat ini. Tentu kita tidak rela asset berharga itu direbut mereka. Semestinya kita berupaya merebut kembali dan memalingkan hati, pikiran dan pembelaan generasi muda kita kepada Islam, umat dengan kemuliaannya.

Imam Ghazali mengatakan “Dulu tradisi orang-orang berilmu adalah mengoreksi dan menjaga penguasa untuk menerapkan hukum Allah SWT. Mereka mengikhlaskan niat. Pernyataannya pun membekas dihati. Namun, sekarang terdapat penguasa yang zhalim namun orang-orang berilmu hanya diam. Andaikan mereka bicara, pernyataannya berbeda dengan perbuatannya sehingga tidak mencapai keberhasilan. Kerusakan masyarakat itu akibat kerusakan penguasa, dan kerusakan penguasa akibat kerusakan orang-orang berilmu. Adapun kerusakan orang-orang berilmu akibat digenggam cinta harta dan jabatan. Siapapun yang digenggam cinta dunia niscaya tidak akan mampu menguasai kerikilnya, apalagi untuk mengingatkan para penguasa dan para pembesar”.

Oleh karena itu, perlu disadari oleh intelektual muslim saat ini kalau intelektual mereka masih berada dalam pembajakan Barat. Hendaklah mereka melepaskan diri dari pembajakan itu dan mengembalikan fungsi utama mereka sebagai pemecah problematika ditengah-tengah masyarakat. Mereka pula sebagai pembela pertama masyarakat dari ke zhaliman penguasa. Merekalah ujung tombak perubahan dan peradaban. Ditangan mereka kebangkitan itu akan tercapai. Maka hendaklah perjuangan intelektual muslim saat ini yaitu mengembalikan kembali kegemilangan islam dengan upaya-upaya agar penerapan islam itu dapat dijalankan secara keseluruhan di muka bumi ini. Hingga terwujudlah Rahmat bagi seluruh alam.

Ingatkah kita saat Rasulullah saw. berdakwah, generasi pertama yang menerima Islam mayoritasnya adalah pemuda. Dalam kiprahnya membela, menjaga dan melindungi Islam, pemuda ada di baris depan. Pasukan perang juga dipenuhi para pemuda. Para pengemban dakwah yang diutus Rasulullah juga adalah kaum muda. Salah satunya adalah Mush’ab bin ‘Umair yang diminta Rasulullah dakwah ke Madinah. Ia menjadi duta Islam pertama. Mush’ab menjadi seorang yang meninggalkan kebanggan palsu dunia dan menggantikannya dengan kemuliaan hakiki di akhirat. Berkat kiprah Mush’ab, dalam tempo kurang dari satu tahun hampir seluruh penduduk Madinah masuk Islam.

Posisi seperti itulah yang semestinya ada pada pemuda Muslim kita. Mereka adalah pengemban dakwah Islam yang terpercaya, duta-duta propaganda syariah Islam yang akan menjadi rahmat bagi seluruh penduduk bumi jika diterapkan secara kaffag dalam institusi Khilafah.

Posisi dan fungsi vital pemuda inilah yang harus kita kembalikan agar terjadi sebagaimana tuntutan Islam. Karena itu harus ada gerakan penyadaran para pemuda Muslim yang dilakukan oleh semua pihak, khususnya partai politik Islam yang berpijak pada mabda’ (ide dan metode) Islam.

Sejatinya peran penting pemuda akan teroptimalisasi dalam masyarakat yang menerapkan Islam kâffah. Khilafah akan menyiapkan segala sesuatu yang diperlukan untuk pemberdayaan pemuda. Sistem pendidikan, pergaulan sosial, sistem ekonomi dan politik yang akan diterapkan Khalifah mendukung pemberdayaan potensial pemuda sebagai penjaga dan pelindung Islam terpercaya. Akal dan hati mereka akan senantiasa ditambatkan pada Islam dan kejayaan umatnya. Karena itu saat ini arah pencerdasan dan pemberdayaan pemuda Muslim harus ditujukan pada upaya penagakan Khilafah ‘ala minhaj an-nubuwwah.

Wallah a’lam bi ash-shawab. []

Sumber bacaan : Website Hizbut Tahrir Indonesia

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s