Arah Pergerakan Politik Islam Hakiki

Dengan berkembangnya jejaring sosial dan komunitas dalam kehidupan masyarakat yang kian urban, serta ditengah kemajuan pesat teknologi yang perlahan tapi pasti mulai menata ulang kehidupan hingga mampu membawa kita hidup di alam lain (baca: dunia maya), segala sesuatu yang tidak mampu adaptif terhadap perubahan dapat dipastikan akan kehilangan tempatnya dalam hingar bingar zaman.

Pun demikian dengan pergerakan mahasiswa hari ini. Ibarat komoditi, pergerakan mahasiswa dari waktu ke waktu terus bertambah dan berkembang. Baik itu gerakan sosial ataupun politik. Seperti yang diberitakan media, banyak sekali mahasiswa yang terjun dalam kegiatan sosial saat adanya bencana yang melanda negri ini. Begitu pula dengan pergerakan politik. Saat mereka merasa bahwa pemerintahan saat ini yang tidak pro lagi terhadap rakyat serta kebijakannya yang menyusahkan rakyat, banyak sekali mahasiswa yang secara gagah berani turun kejalanan untuk menentang kebijakan tersebut. Mereka secara solutif mengatakan bahwa kebijakan pemerintah tersebut harus dihapus. Seperti halnya pada saat kenaikan BBM pada tahun lalu. Dalam aksi tersebut, banyak diantara gerakan politik mahasiswa yang meminta agar BBM kembali diturunkan, bahkan mereka menyatakan kalau solusi dari ketidakadilan penguasa ini adalah dengan menurunkan rezim dan menggantinya dengan rezim baru. Namun apakah itu adalah solusi yang tepat?

Tidak hanya itu, pergerakan politik islampun semakin marak terjadi di indonesia, terutama pada kalangan intelektual. Pergerakan politik islam di kalangan mahasiswapun semakin banyak dan jumlahnya meningkat. Mereka setuju bahwa pergerakan politik itu harus radikal (mengakar), bukan hanya sekedar politik basa-basi yang tiada arti. Karna kita bisa bercermin pada masa lalu, saat setiap pergantian rezim, selalu saja ada masalah. Dan dalam pergantian inipun tidak memberikan dampak yang solutif. Maka satu-satunya solusi untuk mengatasi kebobrokan yang terjadi saat ini adalah dengan penerapan syari’at islam dalam naungan Khilafah.

Seperti survei yang telah dilakukan oleh Lembaga Kajian Islam dan Perdamaian (LaKIP), yang dipimpin oleh Prof Dr Bambang Pranowo –yang juga guru besar sosiologi Islam di Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta– pada Oktober 2010 hingga Januari 2011, mengungkapkan hampir 50% pelajar setuju tindakan radikal. Data itu menyebutkan 25% siswa dan 21% guru menyatakan Pancasila tidak relevan lagi. Sementara 84,8% siswa dan 76,2% guru setuju dengan penerapan Syariat Islam di Indonesia.

Namun baru-baru ini LIPI (Lembaga Ilmu Pegetahuan Indonesia) melakukan sebuah penelitian terhadap pergerakan di kampus-kampus yang ada di indonesia. Anas Saidi mengatakan bahwa “ kalangan anak muda Indonesia makin mengalami radikalisasi secara ideologis dan makin tak toleran, sementara perguruan tinggi banyak dikuasai oleh kelompok garis keras”.

Anas juga menyebutkan bahwa “Hampir tidak ada dalam dunia mahasiswa yang tidak dikuasai oleh kelompok Ikhwanul Muslimin, Salafi, dan Hizbut Tahrir Indonesia. Kelompok ini lebih banyak melakukan radikalisme ideologi dengan cita-cita mendirikan negara Islam versi mereka sendiri. Jika hal ini tidak dicegah secepatnya, kemungkinan besar Indonesia akan terjadi perang saudara dan merusak tatanan negara karena menganggap bahwa ideologi pancasila tidak lagi penting”.

Menurut peneliti LIPI Endang Turmudi, kelompok politik islam ini memiliki pandangan keyakinan dan sikap fundamentalisme puritan kaku. Mereka selalu merasa paling benar dan menganggap kelompok lain salah. Tujuan mereka membangun negara Islam, bahkan untuk mewujudkannya dibolehkan menggunakan cara-cara kekerasan. “Mereka yang tidak mendirikan negara Islam dianggap kafir, halal untuk diperangi karena thogut,” kata Endang.

Dari pernyataannya tersebut, mereka jelas mengatakan bahwa radikalisasi ideologi dan pergerakan politik islam adalah tindakan yang berbahaya dan menjadi ancaman bagi negara. Namun apakah benar radikalisme itu identik dengan kekerasan? Dan apakah mewujudkan negara islam juga harus dengan jalan kekerasan?

Istilah Radikal

Kata radikal berasal dari kata radix yang dalam bahasa Latin artinya akar. Dalam kamus, kata radikal memiliki arti: mendasar (sampai pada hal yang prinsip), sikap politik amat keras menuntut perubahan (undang – undang, pemerintahan), maju dalam berpikir dan bertindak (KBBI, ed-4, cet.I, 2008).

Maka kalau kita kembalikan radikal kepada pengertian asalnya, maka kata radikal adalah sebuah kata yang bersifat ‘netral’, tidak condong kepada sesuatu yang bermakna positif atau negatif. Positif atau negatif tergantung dengan apa kata radikal itu dipasangkan. Contoh misalnya “Muslim Radikal”, maka artinya adalah seorang muslim yang sangat memegang prinsip hidupnya sesuai dengan keyakinannya yakni agama Islam. Dimana baik secara keyakinan, ucapan dan perbuatan semuanya dikembalikan kepada agama Islam sebagai bentuk prinsip hidupnya.

Dan memang sudah seharusnyalah begitu sikap seorang muslim. Jangan sampai mengaku beraqidah Islam, namun dari segi ucapan dan perbuatan menunjukkan yang sebaliknya. Ibarat orang yang sedang sholat dimana kiblatnya menghadap ke ka’bah, namun dari ucapan dan perbuatan berkiblat kepada kehidupan barat yang sekuler-kapitalistik.

Oleh karena itu, penting sekali bagi kita umat Islam untuk semakin memahamkan dan menyadarkan masyarakat akan adanya penyesatan opini terhadap istilah radikal yang dilakukan oleh pihak-pihak yang tidak ingin melihat umat Islam secara ideology bangkit dan menggantikan ideologi kapitalisme-sekuleris yang sekarang masih mendominasi negeri-negeri kaum Muslim, dimana sejatinya ideologi Kapitalisme itulah yang merupakan ancaman nyata bagi negeri ini.

Gerakan Islam Hakiki

Istilah Gerakan Islam (Harakah Islamiyah) sering muncul belakangan ini. Kata harakah menurut etimologi bahasa Arab, diambil dari akar kata at taharruk yang artinya bergerak. Istilah tersebut kemudian menjadi populer dengan arti “Sekelompok orang atau suatu gerakan yang mempunyai suatu target tertentu, dan mereka berusaha bergerak serta berupaya untuk mencapainya”.

Gerakan Islam dapat dilakukan oleh individu, sebuah jama’ah (sekumpulan orang yang mempunyai pemimpin dan memiliki metoda/strategi da’wah tertentu), sebuah organisasi atau sebuah partai politik, baik partai tersebut memiliki ideologi tertentu sehingga dapat dikategorikan sebagai partai politik yang sebenarnya atau partai tersebut hanya sekedar nama tanpa memiliki ideologi tertentu.

Untuk mewujudkan gerakan islam, maka harus memenuhi beberapa aspek berikut :

  1. Mempunyai target tujuan yang diusahakan dan hendak dicapai sebuah gerakan.
  2. Mempunyai bentuk pemikiran yang telah ditentukan oleh gerakan dalam aktifitas perjuangannya.
  3. Mempunyai arah dan kecenderungan tertentu pada orang-orang yang tergabung di dalam gerakan tersebut.
  4. Seluruh aktivitas gerakan haruslah dikaitkan dengan hukum-hukum Islam. Dengan kata lain, metode yang digunakan harus sesuai dan terikat dengan ide maupun hukum Islam. Maka keanggotaannya pun harus pula dari kalangan kaum Muslimin saja.

Thariqah (metode) yang ditempuh oleh gerakan islam haruslah sesuai dengan hukum Syara’ yaitu diambil dari thariqah dakwah Rasulullah saw, sebab thariqah itu wajib diikuti. Sebagaimana firman Allah Swt :

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagi kalian, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan kedatangan Hari Kiamat, dan dia banyak menyebut Allah (dengan membaca dzikir dan mengingat Allah).” (QS. Al Ahzab : 21)

“Katakanlah: ‘Jika kalian (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosa kalian.” (QS. Ali Imran : 31)

“Apa saja yang dibawa Rasul untuk kalian, maka ambilah. Dan apa saja yang dilarangnya bagi kalian, maka tinggalkanlah.” (QS. Al Hasyr : 7)

Dan banyak lagi ayat lain yang menunjukkan wajibnya mengikuti perjalanan dakwah Rasulullah saw, menjadikan beliau suri teladan, dan mengambil ketentuan hukum dari beliau.

Berhubung kaum muslimin saat ini hidup di Darul Kufur—karena diterapkan atas mereka hukum-hukum kufur yang tidak diturunkan Allah Swt— maka keadaan negeri mereka serupa dengan Makkah ketika Rasulullah saw diutus (menyampaikan risalah Islam). Untuk itu fase Makkah wajib dijadikan sebagai tempat berpijak dalam mengemban dakwah dan meneladani Rasulullah saw.

Dengan mendalami sirah Rasulullah saw di Makkah hingga beliau berhasil mendirikan Daulah Islamiyah di Madinah, akan tampak jelas beliau menjalani dakwahnya dengan beberapa tahapan yang sangat jelas ciri-cirinya. Beliau melakukan kegiatan-kegiatan tertentu yang tampak dengan nyata tujuan-tujuannya.

Berdasarkan sirah Rasulullah saw tersebut maka metode gerakan politik islam dalam perjalanan dakwah harus mengikuti 3 (tiga) tahapan berikut :

Pertama, Tahapan Pembinaan dan Pengkaderan (Marhalah At Tatsqif), yang dilaksanakan untuk membentuk kader-kader yang menginternalisasikan islam dalam dirinya dan melaksanakan setiap hukum syari’at islam dalam setiap perbuatannya.

Kedua, Tahapan Berinteraksi dengan Umat (Marhalah Tafa’ul Ma’a Al Ummah), yang dilaksanakan agar umat turut memikul kewajiban dakwah Islam, hingga umat menjadikan Islam sebagai permasalahan utamanya, agar umat berjuang untuk mewujudkannya dalam realitas kehidupan.

Ketiga, Tahapan Penerimaan Kekuasaan (Marhalah Istilaam Al Hukm), yang dilaksanakan untuk menerapkan Islam secara menyeluruh dan mengemban risalah Islam ke seluruh dunia.

Wallahu a’lam biash-shawab.

Sumber bacaan : Website Hizbut Tahrir Indonesia

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s